Tinjau Puskesmas Bua Tallulolo, Wagub Sulsel Tekankan Akurasi Data untuk Cegah Stunting di Toraja Utara

Rantepao, sulselprov.go.id - Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Fatmawati Rusdi mendorong penguatan akurasi data dan kolaborasi lintas sektor dalam percepatan penurunan stunting di Kabupaten Toraja Utara. Hal itu disampaikan saat mengunjungi UPT Puskesmas Bua Tallulolo, Kecamatan Kesu, Toraja Utara, Sabtu (26/9/2026).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pemantauan intervensi gizi sekaligus penguatan pelayanan kesehatan bagi anak dan keluarga. Dalam kegiatan itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan bersama Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan menyerahkan bantuan susu dan vitamin Taburia untuk mendukung pemenuhan gizi anak.
Berdasarkan hasil pengukuran yang tercatat dalam e-PPGBM pada Agustus 2026, proporsi balita yang masuk kategori stunting di Toraja Utara tercatat 14,1 persen, dengan cakupan pengukuran mencapai 93 persen.
Fatmawati mengapresiasi upaya Pemerintah Kabupaten Toraja Utara dalam menurunkan angka tersebut. Namun, ia menekankan bahwa peningkatan kualitas data tetap penting agar intervensi pemerintah tepat sasaran.
“Masa depan bangsa ada di tangan anak-anak kita. Sulawesi Selatan masih harus bekerja keras karena kita perlu menekan angka stunting agar berada di bawah rata-rata nasional. Namun, melihat penurunan tren data hingga Agustus ini, artinya anak-anak kita sudah selangkah lagi keluar dari zona stunting,” ujar Fatmawati.
Fatmawati juga meminta Pemerintah Kabupaten Toraja Utara menginventarisasi alat antropometri yang mengalami kerusakan di 28 puskesmas. Data tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan untuk ditindaklanjuti sesuai mekanisme yang berlaku.
Menurut dia, akurasi pengukuran menjadi bagian penting dalam menentukan intervensi yang tepat bagi anak.
“Betapa pentingnya akurasi data. Kita jangan fokus saja dengan penanganan kuratif untuk anak-anak stunting, tetapi alangkah baiknya kita berfokus kepada promotif preventif. Bukankah mencegah jauh lebih baik daripada mengobati?” katanya.
Di Puskesmas Bua Tallulolo, terdapat 127 balita yang tercatat mengalami stunting berdasarkan hasil pengukuran Agustus 2026. Fatmawati mendorong keluarga untuk memperhatikan pemenuhan gizi serta rutin membawa anak ke puskesmas maupun posyandu untuk memantau pertumbuhan dan kesehatan.
“Anak adalah masa depan keluarga dan masa depan bangsa. Jadi tolong menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.
Fatmawati mengatakan percepatan penurunan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai unsur. Upaya tersebut, kata dia, tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi juga pemerintah, kader, keluarga, masyarakat, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.
Ia juga mengingatkan agar bantuan pemenuhan gizi diberikan dan dikonsumsi sesuai kebutuhan anak.
“Jangan dilihat nilainya, tetapi pastikan ini adalah bentuk kepedulian kita dan kita berharap ini bisa memberikan tambahan gizi kepada anak-anak kita,” katanya.
Selain pemenuhan gizi, Fatmawati mengajak masyarakat memanfaatkan layanan posyandu dan puskesmas secara rutin. Menurut dia, layanan tersebut tidak hanya penting untuk memantau pertumbuhan dan imunisasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi kesehatan bagi keluarga.
Dalam kunjungan itu, Pemprov Sulsel juga menyerahkan bibit cabai dan bibit pohon tabebuya. Fatmawati mengatakan pemanfaatan pekarangan untuk menanam cabai dapat membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga sekaligus membuka peluang nilai tambah ekonomi bagi keluarga.
“Kalau kita semua menanam cabai di depan rumah kita lima pot saja, tentunya untuk pemenuhan keluarga bisa terpenuhi. Bahkan kalau ada pekarangan lebih, kita tanam cabai, itu bisa bernilai tambah ekonomi untuk keluarga,” ujarnya.
Kepala Puskesmas Bua Tallulolo mengatakan salah satu kendala pelayanan posyandu adalah belum optimalnya kunjungan bayi dan balita. Kondisi tersebut antara lain disebabkan jadwal posyandu yang terkadang beririsan dengan kegiatan kemasyarakatan.
Untuk menjangkau sasaran yang belum datang ke posyandu, petugas puskesmas melakukan kunjungan rumah atau sweeping, termasuk untuk pelayanan imunisasi.
Sementara itu, Wakil Bupati Toraja Utara Andrew Branch Silambi mengatakan penanganan stunting membutuhkan kerja sama lintas sektor dan tingkatan pemerintahan. Pemerintah Kabupaten Toraja Utara, kata dia, berkomitmen memperkuat pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi ibu dan anak, serta kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Kita bisa realisasikan ke depannya supaya target-target penurunan stunting di Toraja Utara bisa kita capai karena ini demi masa depan daerah kita sendiri,” ujar Andrew.
Pemprov Sulsel dan Pemkab Toraja Utara selanjutnya diharapkan terus memperkuat upaya pencegahan dan penanganan stunting melalui penguatan data, pelayanan kesehatan, pemenuhan gizi, serta keterlibatan aktif keluarga dan masyarakat. (*)


